Minggu, 06 Maret 2011

REGIONAL ANESTESI PADA HERNIA FEMORALIS SINISTRA REPONIBEL DENGAN STATUS ASA III

Dibuat oleh: Faerus Soraya
Abstrak :
Anestesi spinal adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi regional dapat dibagi menjadi 2, yaitu Blok sentral (blok neuroaxial) meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal, dan Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler, analgesia regional intravena, dan lain-lainnya. Hernia femoralis sinistra sering dijumpai pada perempuan dan penyakit ini memerlukan suatu tindakan pembedahan. Seorang perempuan 75 tahun datang dengan keluhan nyeri benjolan di selangkangan. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis Hernia femoralis Sinistra Repponibel. Pada pasien akan dilakukan herniotomi dengan anestesi spinal dengan teknik subarachnoid block.
Kata kunci: Anestesi spinal, regiona, subarachnoid block.

Kasus :
Seorang perempuan 75 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan terdapat benjolan di selangkangan kiri sejak ±1 bulan yang lalu. Benjolan dapat keluar masuk. Kadang benjolan membesar ketika pasien mengangkat beban dan ketika pasien jalan, namun ketika pasien tiduran benjolan dapat masuk. Benjolan tersebut tidak nyeri, lunak dan tidak mengeluarkan cairan. Tidak terdapat nyeri perut, mual, muntah, nyeri kepala, batuk. BAB dan BAK normal. Riwayat pengobata TB paru selama 6 bulan (+), sedangkan hipertensi, jantung, diabetes mellitus, asma maupun alergi disangkal. Riwayat anestesi sebelumnya disangkal.
Dari pemeriksaan didapatkan, keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, tekanan darah 150/80 mmHg, nadi 100 x/menit, respirasi 24 x/menit, suhu 36,9 oC. Pemeriksaan kepala-leher, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, hidung, mulut, mandibula tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan thorak, abdomen, dan ekstremitas tidak didapatkan kelainan. Status Lokalis pada tampak benjolan di daerah Anulus femoralis sinistra,yang bisa dimasukkan kembali, nyeri tekan tidak ada, finger test ada, teraba tekanan ketika pasien diminta untuk mengejan  Pemeriksaan penunjang : darah lengkap Hb 13,5 g/dL, Hmt 29, Angka Leukosit4,5 103/uL, Angka Eritrosit 4,64 106/uL, Angka Trombosit 245 103/uL, BT 2’00”, CT 2’00”, Ureum 28,5 mg/dl, Kreatinin 0,94 mg/dl. Foto Thorax diperoleh Pulmo normal dan cor tampak membesar. EKG tampak adanya LVH.


Diagnosis:
Berdasarkan data yang diperoleh diatas maka diagnosis pre-operatif pada pasien ini adalah Hernia Femoralis Sinistra  Repponibel dengan status operasi ASA III.

Terapi :
Pada tindakan anestesi diberikan premedikasi berupa ondansetron 4 mg i.v dan antrain 1000 mgr i.v, pada induksi anastesi disuntikan secara SAB pada vertebra lumbal 3-4 obat yang digunakan adalah bupivacain 20mg, kemudian untuk menjaga oksigenasi diberikan O2 3L/m
Diskusi :

Pada kasus ini pasien seorang perempuan usia 64 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di selangkangan kiri, benjolan dapat keluar masuk sejak ±1bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik, Kesadaran compos mentis, tekanan darah 150/80 mmHg, nadi 100 kali per menit, RR :  20 kali per menit, pada pemeriksaan pulmo terdapat ronkhi basah halus, pada pemeriksaan status lokalis tampak massa di region anulus femoralis sinistra reponible, pada auskultasi terdengar bising usus dan tidak ada nyeri pada penekanan. Hasil pemeriksaan darah lengkap dalam batas normal, EKG tampak adanya deviasi ke kiri (LVH) dan Foto Rontgen thorak menunjukkan adanya infiltrat pada kedua parenkhim paru, dan tampak adanya pembesaran jantung. Pasien di diagnosis dengan hernia femoralis sinistra reponibel dengan status ASA class III. Pada pasien ini direncanakan dilakukan herniotomi. Jenis anestesi yang digunakan adalah regional anestesi dengan teknik SAB (Sub Arachnoid Block) pada lumbal III-IV. Pemilihan teknik anestesi berdasarkan pada faktor-faktor seperti usia (bayi, anak-anak, dewasa muda, geriatri), status fisik, jenis dan lokasi operasi (kecil, sedang, besar), keterampilan ahli bedah, keterampilan ahli anestesi. Teknik sub arachnoid block ini dipilih sesuai indikasi yaitu bedah abdomen bawah, serta tidak ada kontraindikasi baik absolut maupun relatif. Pada pasien ini usia 64 tahun termasuk usia lanjut, status ASA III (terdapat kelainan pada system kardiovaskuler dan system respirasi).
Premedikasi merupakan tindakan pemberian obat-obatan pendahuluan sebelum dilakukan induksi anestesi dengan tujuan untuk menimbulkan rasa nyaman pada pasien, mengurangi sekresi kelenjar, serta memperlancar induksi. Pada kasus ini digunakan ketorolac 30mg dan cendantron 4mg. Ketorolac termasuk golongan obat antiinflamasi non steroid (NSAID) yang bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan mediator yang berperan pada inflamasi, nyeri, demam dan sebagai penghilang rasa nyeri perifer. Ketorolac tidak menstimulasi reseptor opioid pada sistem saraf pusat sehingga tidak menimbulkan efek depresi pernafasan, sedatif dan euphoria. Dosis ketorolac yang dianjurkan adalah 30-60 mg, dan dilanjutkan dengan 15-30 mg setiap 6 jam dengan dosis maksimal 120 mg/hari, dan lama pemberian terapi maksimal 5 hari. Cendantron berisi ondansetron HCl yang merupakan suatu antagonis reseptor 5-HT3 yang bekerja secara selektif dalam menekan mual dan muntah. Ondansetron HCl diberikan dengan tujuan mencegah mual dan muntah paska operasi agar tidak terjadi aspirasi dan rasa tidak nyaman. Untuk  pencegahan mual dan muntah, dosis ondansetron HCl untuk dewasa adalah 4-8 mg yang dapat diberikan secara i.v.

Induksi anestesi pada kasus ini menggunakan Decain 20 mg yang diinjeksikan ke dalam ruang subaraknoid kanalis spinalis region antara lumbal 3-4. Decain berisi bupivacaine HCl anhydrous. Bupivacaine merupakan anastesi lokal yang mekanismenya adalah mencegah terjadinya depolarisasi pada membran sel saraf pada tempat suntikan obat tersebut, sehingga membran akson tidak dapat bereaksi dengan asetil kolin sehingga membran tetap semipermeabel dan tidak terjadi perubahan potensial. Hal ini menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf  tersebut berhenti sehingga segala macam rangsang atau sensasi tidak sampai ke sistem saraf pusat. Pada konsentrasi darah yang dicapai dengan dosis terapi, terjadi perubahan konduksi jantung, eksitabilitas, refrakteritas, kontraktilitas dan resistensi vaskuler perifer yang minimal. Lama kerja analgesia bupivacaine 0,5 % antara 3-5 jam pada segmen torakal bawah dan lumbal. Bupivacaine 0,5 % menghasilkan relaksasi otot pada anggota badan bagian bawah selama 3-4 jam. Ginjal adalah organ ekskresi utama untuk kebanyakan anestetik lokal dan metabolitnya. Ekskresi melalui urin dipengaruhi oleh perfusi renal dan faktor-faktor yang mempengaruhi pH urin. Hanya 5% dari bupivacaine yang diekskresi dalam urin dalam bentuk asal. Jika diberikan dalam dosis dan konsentrasi yang dianjurkan, bupivacaine biasanya tidak mengakibatkan iritasi atau kerusakan jaringan serta tidak menyebabkan methemoglobinemia. Pasien usia lanjut mencapai analgesia dan hambatan motorik maksimal lebih cepat daripada pasien muda. Bupivacain berikatan dengan natrium channel sehingga mencegah depolarisasi. Dosis bupivacain 1-2 mg/kgBB potensinya 3-4 kali dari lidokain dan lama kerjanya 2-5 kali lidokain. Sifat hambatan sensoris lebih domina dibanding motoris.

Pemberian oksigen 3 liter per menit untuk menjaga oksigenasi pasien
  Kesimpulan :
Pada kasus ini pasien seorang perempuan berusia 75 tahun dengan diagnosis Hernia Femoralis Sinistra Repponibel dan akan dilakukan herniotomi. Jenis anestesi yang digunakan adalah regional anastesi-anastesi spinal dengan teknik subarachnoid block yaitu anastesi pada ruang subarachnoid kanalis spinalis regio antara vertebra lumbal 4-5. Pemilihan teknik anastesi berdasarkan pada faktor-faktor seperti usia, status fisik, jenis dan lokasi operasi, ketrampilan ahli bedah, ketrampilan ahli anastesi dan pendidikan. Komplikasi tindakan pada analgesia spinal berupa hipotensi berat akibat blok simpatis sehingga terjadi venous pooling, bradikardia, hipoventilasi akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali napas, trauma pembuluh darah.
Referensi :
1. Desai,Arjun M.2010. Anestesi. Stanford University School of Medicine. Diakses dari: http://emedicine.medcape.com
2. Hariyono, Siswo. 2006. Anetesi regional, aplikasi klinis dan manfaat. Diakses dari: http://digilib.uns.ac.id

3. Latief, said. 2001. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: FKUI

4. Tanpa nama. Tanpa tahun. Terapi Cairan Sederhana dan Transfusi Perioperatif. Diakses dari http://denfirman.blogspot.com/2009/12/terapi-cairan-sederhana-dan-transfusi.html
5. Muhaiman, M. 1989. Anestesiologi. Penerbit Fakultas Kedokteran UI: Jakarta
PENULIS:
Faerus Soraya, bagian Anestesiologi dan Reanimasi, RSUD Wonosobo
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=REGIONAL+ANESTESI+PADA+++HERNIA+FEMORALIS+SINISTRA+REPONIBEL+++DENGAN+STATUS+ASA+III++ 
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Komentar anda

About Me